“Mimpi kami terus berlanjut,” kata Leonardo Bonucci pasca pertandingan melawan Celtic di babak 16 besar Liga Champions yang berlangsung di Turin pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Tetapi sayangnya, apa yang terjadi pada Juventus bukanlah sebuah mimpi, melainkan realita: setelah tujuh tahun, La Vecchia Signora akhirnya melaju ke babak perempat-final turnamen antar klub paling bergengsi di dunia tersebut.
Penantian itu begitu panjang, namun akhirnya berakhir sudah. Dua gol yang dicetak oleh Alessandro Matri di menit 24 dan Fabio Quagliarella di menit 65 berhasil membawa Juve lolos ke babak perempat-final dengan keunggulan agregat 5-0 atas Celtic. Mereka pun sampai saat ini belum terkalahkan di Liga Champions musim ini, dengan catatan tiga kali seri dan lima kemenangan.
Siapa yang menyangka, tim yang awalnya hanya meraih hasil seri di tiga pertandingan pertamanya di babak grup – sehingga sempat diragukan bisa lolos ke babak selanjutnya – bisa mencapai babak perempat-final turnamen ini. Lolos ke perempat-final dengan keunggulan agregat yang amat meyakinkan pula. Tapi terlepas dari keraguan banyak orang di awal musim, Antonio Conte dan timnya sudah membuktikan karakter dan kualitas mereka: bahwa mereka bisa bersaing di Liga Champions layaknya sebuah tim besar.
Saya pernah membaca, lupa di mana tepatnya dan siapa yang mengatakan/menulisnya, bahwa sebuah tim besar bisa meraih kemenangan bahkan di saat mereka tak tampil istimewa. Itulah yang ditunjukkan Bianconeri di Juventus Stadium pada Kamis dini hari kemarin. Bermain tak terlalu istimewa dan masih mengandalkan taktik serangan balik khas tim-tim Serie A di Eropa, Juventus bisa meraih kemenangan dua gol tanpa balas – bahkan ketika mereka sebenarnya tak membutuhkannya.
Kemenangan ini, bagi saya pribadi, seakan menjadi sebuah penegasan: Juventus yang dulu, yang dikenal sebagai salah satu momok besar di Italia dan Eropa, telah kembali. Mereka mungkin tak lagi bertabur bintang-bintang kelas satu seperti era Zinedine Zidane dulu, tetapi apa yang dimiliki oleh Juve di era Conte ini sudah memadai untuk membawa Juve bangkit dan kembali menjadi salah satu tim yang disegani di benua biru. Sebagaimana yang diucapkan oleh Gianluigi Buffon pasca laga kemarin, “Hal terpenting di musim ini adalah Juve mendapatkan kembali rasa hormat dari tim lainnya, dan saya bisa katakan kami telah mencapainya.”
Apakah pujian saya terlalu berlebihan mengingat mereka baru mencapai babak perempat-final dan belum menjadi juara? Well, saya bukan seorang fan Juve, tetapi jika Anda memperhatikan apa yang terjadi di Juve sejak era duet Alessandro Del Piero – Filippo Inzaghi yang ikonik itu hingga terjun bebasnya mereka ke Serie B karena Calciopoli, dan sampai akhirnya kembali menjadi Scudetto berkat tangan dingin eks kaptennya di masa lalu, maka Anda akan memahami mengapa tulisan ini begitu penuh dengan pujian terhadap Le Zebre.
Pertanyaannya kemudian, sampai mana sang kuda zebra dari kota Turin ini akan berlari musim ini?
Melihat apa yang ditunjukkan oleh Juve sejauh ini, jangan heran jika media-media di Italia mulai mengemukakan optimisme mereka bahwa mencapai apa yang disebut il doppio sogno: menyandingkan scudetto dan gelar juara Liga Champions. Jangankan media, bahkan beberapa pemain Juventus pun mulai optimis dengan prospek tersebut.
Jika berbicara soal Serie A, Juventus bisa dikatakan amat sulit ditandingi: kecuali Napoli, tim-tim lainnya berjarak dua digit poin dengan Juventus. Performa Partenopei sebagai rival terdekat mereka pun kini tengah menurun dengan hanya meraih empat hasil seri secara beruntun dalam empat pertandingan terakhir mereka. Meski masih ada 11 giornata tersisa, termasuk akhir pekan ini, sulit melihat Bianconeri akan turun tahta di akhir musim ini.
Bagaimana dengan Liga Champions? Lawan-lawan mereka di babak perempat-final dan selanjutnya (jika mereka lolos) jelas tidak akan ‘semudah’ Celtic. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh komentator-komentator sepakbola sejak zaman dahulu, di dunia sepakbola apapun bisa terjadi. Menarik juga melihat pernyataan Conte pasca laga kemarin:
“Kami tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak yang dihabiskan oleh Madrid, Bayern Munich, Barcelona, dan Paris Saint-Germain. Saat ini, kami berada tiga atau empat langkah di belakang tim-tim itu,” akunya, seperti dikutip Football Italia.
“Tetapi hal itu tidak berarti apa-apa. karena di atas lapangan sepakbola, ada 11 pemain mereka, 11 pemain kami, wasit, dua gawang, dan ada dua pertandingan yang harus dihadapi: kandang dan tandang. Jika kami bertemu dengan tim-tim itu di babak selanjutnya, kami tidak akan memulai laga sebagai pihak yang kalah.”
Jalan Juventus jelas masih panjang. Katakanlah gelar ganda sebagaimana yang diimpikan itu masih benar-benar sekedar mimpi. Tetapi bukan berarti mimpi tidak mungkin dicapai. Sebagaimana yang ditulis oleh Tuttomercatoweb dalam sebuah artikelnya baru-baru ini, “Il cammino avevamo detto รจ ancora lungo, ma non impossibile.”




Banyak yang mengagung-agungkan penampilan Arturo Vidal di laga melawan Fiorentina di akhir pekan kemarin, memang karena pemain asal Chile tersebut tampil sangat bagus di laga tersebut – termasuk memberikan satu assist bagi gol Alessandro Matri di akhir babak pertama yang didahului dengan aksi individu menawan di depan kotak penalti La Viola. Namun jarang yang memperhatikan peran Federico Peluso, pemain yang baru dipinjam oleh Juventus dari Atalanta pada bulan Januari kemarin.

