Juventus' forward Fabio Quagliarella celebrates

“Mimpi kami terus berlanjut,” kata Leonardo Bonucci pasca pertandingan melawan Celtic di babak 16 besar Liga Champions yang berlangsung di Turin pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Tetapi sayangnya, apa yang terjadi pada Juventus bukanlah sebuah mimpi, melainkan realita: setelah tujuh tahun, La Vecchia Signora akhirnya melaju ke babak perempat-final turnamen antar klub paling bergengsi di dunia tersebut.

Penantian itu begitu panjang, namun akhirnya berakhir sudah. Dua gol yang dicetak oleh Alessandro Matri di menit 24 dan Fabio Quagliarella di menit 65 berhasil membawa Juve lolos ke babak perempat-final dengan keunggulan agregat 5-0 atas Celtic. Mereka pun sampai saat ini belum terkalahkan di Liga Champions musim ini, dengan catatan tiga kali seri dan lima kemenangan.

Siapa yang menyangka, tim yang awalnya hanya meraih hasil seri di tiga pertandingan pertamanya di babak grup – sehingga sempat diragukan bisa lolos ke babak selanjutnya – bisa mencapai babak perempat-final turnamen ini. Lolos ke perempat-final dengan keunggulan agregat yang amat meyakinkan pula. Tapi terlepas dari keraguan banyak orang di awal musim, Antonio Conte dan timnya sudah membuktikan karakter dan kualitas mereka: bahwa mereka bisa bersaing di Liga Champions layaknya sebuah tim besar.

Saya pernah membaca, lupa di mana tepatnya dan siapa yang mengatakan/menulisnya, bahwa sebuah tim besar bisa meraih kemenangan bahkan di saat mereka tak tampil istimewa. Itulah yang ditunjukkan Bianconeri di Juventus Stadium pada Kamis dini hari kemarin. Bermain tak terlalu istimewa dan masih mengandalkan taktik serangan balik khas tim-tim Serie A di Eropa, Juventus bisa meraih kemenangan dua gol tanpa balas – bahkan ketika mereka sebenarnya tak membutuhkannya.

Kemenangan ini, bagi saya pribadi, seakan menjadi sebuah penegasan: Juventus yang dulu, yang dikenal sebagai salah satu momok besar di Italia dan Eropa, telah kembali. Mereka mungkin tak lagi bertabur bintang-bintang kelas satu seperti era Zinedine Zidane dulu, tetapi apa yang dimiliki oleh Juve di era Conte ini sudah memadai untuk membawa Juve bangkit dan kembali menjadi salah satu tim yang disegani di benua biru. Sebagaimana yang diucapkan oleh Gianluigi Buffon pasca laga kemarin, “Hal terpenting di musim ini adalah Juve mendapatkan kembali rasa hormat dari tim lainnya, dan saya bisa katakan kami telah mencapainya.”

Apakah pujian saya terlalu berlebihan mengingat mereka baru mencapai babak perempat-final dan belum menjadi juara? Well, saya bukan seorang fan Juve, tetapi jika Anda memperhatikan apa yang terjadi di Juve sejak era duet Alessandro Del Piero – Filippo Inzaghi yang ikonik itu hingga terjun bebasnya mereka ke Serie B karena Calciopoli, dan sampai akhirnya kembali menjadi Scudetto berkat tangan dingin eks kaptennya di masa lalu, maka Anda akan memahami mengapa tulisan ini begitu penuh dengan pujian terhadap Le Zebre.

Pertanyaannya kemudian, sampai mana sang kuda zebra dari kota Turin ini akan berlari musim ini?

Melihat apa yang ditunjukkan oleh Juve sejauh ini, jangan heran jika media-media di Italia mulai mengemukakan optimisme mereka bahwa mencapai apa yang disebut il doppio sogno: menyandingkan scudetto dan gelar juara Liga Champions. Jangankan media, bahkan beberapa pemain Juventus pun mulai optimis dengan prospek tersebut.

Jika berbicara soal Serie A, Juventus bisa dikatakan amat sulit ditandingi: kecuali Napoli, tim-tim lainnya berjarak dua digit poin dengan Juventus. Performa Partenopei sebagai rival terdekat mereka pun kini tengah menurun dengan hanya meraih empat hasil seri secara beruntun dalam empat pertandingan terakhir mereka. Meski masih ada 11 giornata tersisa, termasuk akhir pekan ini, sulit melihat Bianconeri akan turun tahta di akhir musim ini.

Bagaimana dengan Liga Champions? Lawan-lawan mereka di babak perempat-final dan selanjutnya (jika mereka lolos) jelas tidak akan ‘semudah’ Celtic. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh komentator-komentator sepakbola sejak zaman dahulu, di dunia sepakbola apapun bisa terjadi. Menarik juga melihat pernyataan Conte pasca laga kemarin:

“Kami tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak yang dihabiskan oleh Madrid, Bayern Munich, Barcelona, dan Paris Saint-Germain. Saat ini, kami berada tiga atau empat langkah di belakang tim-tim itu,” akunya, seperti dikutip Football Italia.

“Tetapi hal itu tidak berarti apa-apa. karena di atas lapangan sepakbola, ada 11 pemain mereka, 11 pemain kami, wasit, dua gawang, dan ada dua pertandingan yang harus dihadapi: kandang dan tandang. Jika kami bertemu dengan tim-tim itu di babak selanjutnya, kami tidak akan memulai laga sebagai pihak yang kalah.”

Jalan Juventus jelas masih panjang. Katakanlah gelar ganda sebagaimana yang diimpikan itu masih benar-benar sekedar mimpi. Tetapi bukan berarti mimpi tidak mungkin dicapai. Sebagaimana yang ditulis oleh Tuttomercatoweb dalam sebuah artikelnya baru-baru ini, “Il cammino avevamo detto รจ ancora lungo, ma non impossibile.”

Sumber foto: Guardian

Mari kita sudahi dulu pembicaraan teori konspirasi mengenai wasit Cuneyt Cakir dan kartu merah yang diberikan kepada Nani. Ada yang lebih penting daripada itu yang bisa kita dan bahas dari pertandingan Manchester United vs Real Madrid dini hari tadi (6/3).

Hal yang paling menarik perhatian tentu bagaimana Manchester United bermain dengan baik sejak awal laga hingga kartu merah yang menentukan tersebut. Kubu tuan rumah yang dipimpin oleh Sir Alex Ferguson seperti hendak memaksa anak-anak asuhan Jose Mourinho untuk merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi Barcelona akhir pekan kemarin dengan harus menghadapi taktik bertahan-serangan balik yang sebetulnya menjadi strategi Madrid di laga El Clasico itu. Kredit untuk Sir Alex, United sukses mengunci pemain-pemain kunci Los Blancos dan membuat mereka kesulitan menembus zona penalti tuan rumah.

Shot Zone - Man Utd vs Real MadridSumber: whoscored.com

Secara keseluruhan Real Madrid menguasai 63% ball possession. Namun dari data shot zones yang dikeluarkan oleh whoscored.com, terlihat bagaimana Real Madrid banyak melakukan tendangan dari 18 yard box dan out of box. Bandingkan dengan shot zones United, yang 84% diantaranya dilakukan dari 18 yard box. Gambar diatas, jika kita hubungkan dengan ball possession dari kedua tim, menunjukkan bagaimana sulitnya Real Madrid menembus pertahanan tuan rumah, sedangkan United bisa memaksimalkan serangan balik yang mereka lakukan di sepanjang laga.

Apalagi diketahui bahwa ternyata jumlah tendangan yang dilakukan oleh United di pertandingan ini tak terlalu jauh dengan yang dilakukan oleh Madrid, yakni 19 berbanding 23. Madrid beruntung kiper kedua mereka, Diego Lopez, bermain cemerlang dan berulang kali membuat penyelamatan hebat sehingga hanya satu gol bersarang ke gawangnya – itu pun dicetak oleh rekan setimnya sendiri, Sergio Ramos.

Suksesnya pertahanan United di pertandingan ini juga ditentukan oleh aksi Rafael, yang menggantikan tugas Phil Jones untuk menjaga Cristiano Ronaldo. Meski tak serapat Jones, Rafael termasuk sukses membuat CR7 tak sering bisa menembus dinding rapat United. Fakta bahwa Ronaldo akhirnya bisa membuat 11 tendangan adalah hal lain, tetapi setidaknya apa yang dilakukan oleh Rafael di laga ini tetap patut diapresiasi. Apalagi ia juga sempat menggagalkan peluang Madrid dengan menghalau bola sundulan salah satu pemain Madrid (saya agak lupa siapa) tepat dari depan garis gawang.

Modric Jadi Kunci

Seperti yang sudah dituliskan oleh Miguel Delaney dalam blognya di ESPN FC dan juga Michael Cox di Zonal Marking, kunci kemenangan Real Madrid adalah gerak cepat Jose Mourinho menyusul kartu merah Nani. Menghadapi lawan dengan 10 pemain, Mourinho secara alamiah langsung memerintahkan para pemainnya untuk mengempur pertahanan tuan rumah, dan juga membuat pergantian pemain yang penting, yaitu memasukkan Luka Modric menggantikan Alvaro Arbeloa. Hal ini membuat Sami Khedira tergeser posisinya menjadi bek kanan, sedangkan Modric di tengah menemani Xabi Alonso, yang tak terlalu menonjol di laga ini karena terus menerus mendapatkan pengawalan di sepanjang laga dari pemain United.

“Secara taktik, Man United sangat siap dan bertahan sangat rapat, dan Modric menambahkan kecepatan dalam permainan kami dengan cara bermainnya yang vertikal. Saya pikir ia membuat perbedaan (di pertandingan ini),” kata Mourinho pasca laga kepada FIFA.com.

Cukup beralasan menilai Modric membawa perbedaan dalam permainan Madrid di paruh kedua laga ini. Dengan tipikal bermainnya yang lebih menyerang daripada Khedira, Modric memberikan tekanan tambahan kepada lawan dengan gerak vertikalnya dari lini kedua. Modric seakan memberikan kejutan bagi lini belakang United: ketika pemain lainnya seperti Mesut Ozil atau Gonzalo Higuain tertutup rapat sementara Kaka tak bisa apa-apa, ia bisa maju menggebrak dan membingungkan pertahanan lawan. Gol tendangan kerasnya yang luar biasa dari luar kotak penalti seakan merupakan nilai plus.

Gerak cepat Mourinho juga yang mengakhiri pertandingan ini. Tak lama setelah Ronaldo mencetak gol kedua Los Merengues, Mourinho langsung memasukkan Pepe untuk menggantikan Ozil. Dan ketika Opa Fergie memasukkan Wayne Rooney, Ashley Young, dan Antonio Valencia, kita tahu semuanya sudah terlambat.

Jika Anda dalam posisi Massimo Moratti ketika menunjuk Andrea Stramaccioni sebagai pelatih baru Inter untuk menggantikan Claudio Ranieri yang dipecat pada Maret tahun lalu, apa yang Anda harapkan darinya? Gelar juara? Sekedar bertahan di papan atas Serie A? Atau hanya berharap Stramaccioni bisa berevolusi dari pelatih potensial menjadi pelatih Italia yang bagus?

Jika hal pertama dan kedua yang Anda harapkan dari sosok pelatih berusia 37 tahun ini, maka jelas bahwa kesabaran Anda akan segera habis dan Stramaccioni akan segera Anda pecat. Namun jika hal ketiga yang Anda harapkan, Anda pasti akan memberikan waktu dan kesempatan yang lebih banyak lagi kepadanya agar terus berkembang, karena Anda menyadari bahwa evolusi memerlukan proses.

Saya tentu tidak tahu apa yang ada di dalam kepala Moratti ketika ia menunjuk Stramaccioni hampir satu tahun yang lalu. Saya tidak tahu harapan macam apa yang ada di dalam benaknya yang dibebankan kepada eks pelatih primavera Inter tersebut. Tetapi saya berharap, yang ada di dalam benaknya adalah hal ketiga yang ada di pilihan di atas.

Setelah apa yang ia capai bersama tim primavera di turnamen NextGen Series tahun lalu, dan setelah pertunjukkan yang ia suguhkan di akhir musim lalu, di mana ia berhasil membawa Inter finis di posisi keenam setelah ‘musim yang buruk’ bersama Gian Piero Gasperini dan Claudio Ranieri, Stramaccioni jelas menunjukkan bahwa dirinya memiliki potensi yang besar untuk menjadi pelatih yang bagus di Italia. Namun seperti yang saya sebutkan di atas tadi: evolusi memerlukan waktu, dan begitupun Stramaccioni. Anda tidak mungkin mengharapkannya bisa langsung membawa Inter menjadi juara, apalagi dengan kondisi skuat mereka yang menurut saya pribadi, masih belum memiliki kapasitas untuk meraih scudetto. Stramaccioni bukan pencipta keajaiban.

Kini tekanan terhadapnya memang sungguh berat. Kekalahan memalukan dari Fiorentina di Artemio Franchi belum lepas dari ingatan, hari Minggu besok AC Milan, yang baru saja meraih kepercayaan diri yang luar biasa besar berkat kemenangan atas Barcelona, siap kembali menjungkalkan timnya. Kemenangan atas CFR Cluj memang bisa jadi pemicu harapan, tetapi tetap saja hal itu tidak akan bisa menggugurkan tekanan yang muncul kepadanya secara keseluruhan.

Tetapi apapun yang terjadi di Giuseppe Meazza atau San Siro pada Senin dini hari nanti waktu Indonesia, apapun hasil akhir dari laga yang bertajuk Derby della Madonnina, saya hanya bisa berharap bahwa itu tidak akan mempengaruhi posisi Stramaccioni di Inter. Dan semoga Massimo Moratti mewujudkan ucapannya bahwa ia tidak akan memecat Stramaccioni. Sang pelatih potensial ini masih memerlukan waktu untuk berkembang agar bisa mewujudkan ekspektasi banyak orang untuk menjadi seorang pelatih hebat, dan anggap saja ini adalah proses pembelajaran baginya.

Evolusi memerlukan waktu untuk proses. Stramaccioni pun demikian.

Banyak yang mengagung-agungkan penampilan Arturo Vidal di laga melawan Fiorentina di akhir pekan kemarin, memang karena pemain asal Chile tersebut tampil sangat bagus di laga tersebut – termasuk memberikan satu assist bagi gol Alessandro Matri di akhir babak pertama yang didahului dengan aksi individu menawan di depan kotak penalti La Viola. Namun jarang yang memperhatikan peran Federico Peluso, pemain yang baru dipinjam oleh Juventus dari Atalanta pada bulan Januari kemarin.

Peluso memang dimainkan sejak awal pertandingan di posisi bek kiri dalam sistem tiga bek Juve untuk menggantikan peran Giorgio Chiellini yang masih cedera. Ini keputusan yang cukup mengejutkan mengingat mereka masih memiliki Martin Caceres yang bisa dimainkan di posisi tersebut. Apalagi, sebelum laga melawan Fiorentina kemarin, Peluso baru satu kali bermain bersama Juve, yaitu di laga melawan Sampdoria di awal Januari, ketika Bianconeri kalah 1-2 di kandang sendiri.

Wajar jika fans Juventus agak khawatir mengingat Fiorentina memiliki Juan Cuadrado yang dikenal eksplosif dan memiliki skill individu yang bagus. Apalagi ada juga Stevan Jovetic, andalan Fiorentina di lini depan. Namun tak disangka Peluso mampu bermain bagus di laga tersebut.

Peluso mampu menjadi back-up dari Paolo De Ceglie dalam mematikan aksi Quadrado di sisi kiri pertahann Juventus. Ia tampil bagus di hampir sepanjang laga, dan menjadi salah satu tumpuan timnya dalam menghadapi serangan Fiorentina.

Tim tamu sendiri memang kerap menyerang dari sisi kedua sisi, memanfaatkan eksplosifitas Cuadrado yang dibantu oleh Romulo di sisi kanan dan Manuel Pasqual di sisi kiri. Situs whoscored.com mencatat meski 43% serangan dialirkan dari sisi kiri, namun 58% tendangan yang dilakukan oleh Fiorentina dilakukan dari sisi kanan.

Catatan statistik pribadi Peluso memang tidak seistimewa Andrea Barzagli di pertandingan ini, tetapi tiga tekel sukses, empat intercept, tiga clearance dan satu kali shot blocked bukanlah catatan yang buruk.

Penampilan bagus Peluso berlanjut di laga Liga Champions melawan Celtic di Celtic Park dini hari tadi (13/2). Kali ini Antonio Conte mempercayakan Peluso di posisi sayap kiri dalam formasi 3-5-2 mereka, sementara posisi bek kiri diisi oleh Martin Caceres. Dan sekali lagi, Peluso tampil baik, dan bahkan membuat satu assist di pertandingan ini.

Gol Alessandro Matri di menit ketiga adalah hasil dari dari umpan jauhnya yang akurat. Peran Peluso di sisi kiri juga amat berpengaruh bagi Juventus, mengingat 44% serangan Juve di laga tersebut dilakukan dari wilayahnya bermain. Ia bersama Claudio Marchisio yang juga tampil luar biasa menjadi tumpuan Juventus untuk melakukan serangan balik – senjata utama Bianconeri di Celtic Park. Bisa dipahami jika ketiga gol yang dicetak oleh Juventus di malam itu tercipta lewat serangan di sisi ini.

Amat mencengangkan sebenarnya ketika mengetahui bahwa Peluso sudah berusia 29 tahun. Usia yang tak lagi muda. Ke mana saja ia selama ini sehingga ia baru “kelihatan” sekarang?

Nama Peluso memang baru beredar di Serie A kala ketika ia membuat debutnya bersama Atalanta di tahun 2009. Ia kemudian menjadi langganan tim utama Atalanta, tak peduli meski mereka terdegradasi ke Serie B sebelum kembali lagi di tahun 2011.

CV pribadinya sebenarnya kurang meyakinkan. Maklum, sebelum bermain bersama Atalanta, ia hanya pernah berkeliling tim-tim semenjana Italia seperti Pro Vercelli, Ternana, dan Albinoleffe, meski di masa mudanya ia pernah masuk akademi Lazio.

Kini di usia 29 tahun, Peluso berhasil mendapatkan kepercayaan dari Juventus, meski baru di beberapa pertandingan saja sejak dipinjam pada Januari lalu. Jika ia bisa tampil konsisten di setiap laganya, Juventus seharusnya akan berjuang untuk mempermanenkan Peluso di akhir musim nanti. Tak peduli meski usianya tak lagi muda.

Setelah lima laga tanpa kemenangan, Chelsea akhirnya meraih tiga angka lagi akhir pekan kemarin. Tampil di Stamford Bridge yang, entah mengapa, terdengar sunyi tanpa banyak chants-chants bertebaran di tribun-tribun suporter, Fernando Torres dkk. berhasil menaklukkan Wigan Athletic dengan skor yang meyakinkan, 4-1.

Kemenangan atas The Latics tersebut memang tidak mudah didapat. Pendukung The Blues barangkali sempat merasa khawatir ketika Shaun Maloney mencetak gol yang memperkecil ketertinggalan Wigan di babak kedua, dan membuat skor menjadi 2-1. Maklum, pelajaran dari lima pertandingan sebelumnya, The Blues mudah sekali kehilangan tiga angka meski sebenarnya mampu unggul terlebih dahulu. Ingat pertandingan melawan Southampton atau Newcastle United?

Beruntung Frank Lampard berhasil memastikan kemenangan tetap aman berkat golnya tiga menit sebelum waktu normal habis, sebelum akhirnya Marko Marin mencetak gol pertamanya dalam balutan seragam Chelsea lewat sundulan kepala.

Pasca laga, Rafael Benitez mengatakan bahwa kemenangan tersebut bisa terjadi berkat kembalinya beberapa punggawa kunci tim yang sebelumnya absen karena cedera maupun hukuman.

“Kami kini bisa memiliki lebih banyak opsi,” katanya dalam konferensi pers. Hal tersebut membuat permainan Chelsea menjadi lebih variatif, sesuatu yang, menurut Benitez, tak bisa ia lakukan sebelumnya. Sekedar pengingat, Benitez sebelumnya memang kerap mengeluhkan minimnya pilihan pemain dalam skuatnya akibat banyaknya pemain yang harus absen.

Harus diakui bahwa apa yang dikatakan oleh Benitez benar adanya. Salah satu pemain yang baru kembali dan langsung memiliki peran krusial adalah David Luiz, yang kembali ditempatkan sebagai gelandang bertahan, berduet bersama Frank Lampard di tengah.

Kapten Brasil di laga versus Inggris beberapa hari yang lalu itu memang tampil luar biasa: agresifitasnya dengan tekel-tekel dan intersepsinya, dan juga visinya yang cukup bagus untuk menjadi pembangun serangan di sisi tengah. Tanpa kita sadari, David Luiz telah menjelma menjadi gelandang bertahan yang nyaris komplet, dan itulah yang ditunjukkannya di laga melawan Wigan kemarin.

Statistik menunjukkan hal itu dengan jelas: di sisi defensif, David Luiz tercatat empat kali melakukan tekel sukses, tiga kali intercept bola, dan lima kali clearance. Tak ada pemain Chelsea lainnya yang bisa mendekati catatan Luiz tersebut. Untuk sisi ofensif, Luiz tercatat tujuh kali melakukan tendangan – lebih banyak daripada pemain lainnya di pertandingan ini -, tiga kali membuat key pass, dan dua kali dribel sukses. Baik secara ofensif maupun defensif, David Luiz adalah salah satu yang terbaik di pertandingan ini, dan jika penilaian keduanya digabungkan, ia adalah man of the match-nya.

Luiz seakan menunjukkan bagian mana yang menjadi kelemahan The Blues di pertandingan-pertandingan sebelumnya: gelandang bertahan. Ya, akibat Luiz cedera dan John Obi Mikel harus memperkuat negaranya di Piala Afrika, Benitez seringkali hanya mengandalkan Frank Lampard, Oscar, atau Ramires di posisi gelandang tengah untuk menopang para pemain kreatif di depannya. Ketiganya memang bagus secara ofensif, namun untuk sisi defensif, tak ada yang bisa menandingi David Luiz. Ramires yang awalnya diharapkan bisa jadi pengganti Michael Essien pun ternyata lebih bagus dalam hal ofensif.

David Luiz kini memang semakin matang sejak diposisikan sebagai gelandang bertahan. Ia kini bisa menyalurkan hasratnya untuk membantu serangan – sebagaimana sering ia tunjukkan juga kala masih menjadi bek tengah – namun tetap bisa memanfaatkan kemampuannya dalam bertahan. Inilah posisi yang saya pikir ideal baginya. Yang mengejutkan adalah kemampuannya dan adaptasinya sebagai gelandang bertahan ternyata lebih baik daripada yang disangka sebelumnya.

Satu hal yang tak saya sangka sebelumnya adalah kemampuannya dalam mengumpan. Selain mampu membuat tiga key passes seperti yang saya sebutkan di atas, secara keseluruhan Luiz tercatat membuat 53 umpan (nomor lima terbanyak di antara pemain lainnya di laga tersebut), 87% diantaranya tepat sasaran. Ini menunjukkan akurasi umpannya sangat baik. Yang menarik, Luiz juga tercatat tiga kali membuat umpan jauh, dan ketiga-tiganya tepat sasaran. Izinkan saya untuk sedikit berlebihan, tetapi saya merasa Luiz kini malah lebih baik daripada Mikel di posisi tersebut.

Kini, tinggal berharap Luiz bisa terus fit, terhindar dari cedera, dan tak mengalami hukuman kartu. Juga berharap agar Benitez akan terus memainkan Luiz di posisi yang sama. Dengan usianya yang masih cukup muda, Luiz masih bisa terus berkembang dan semakin mahir memainkan peran barunya tersebut.

Data statistik diambil dari WhoScored.com

Gambar via Liputan6.com

Sebelum pertandingan, banyak yang mengatakan bahwa Indonesia seharusnya bisa menang mudah atas Laos, tim yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terlemah di Asia Tenggara (bahkan Rio Ferdinand meramalkan Indonesia bisa menang 5-0!). Namun melihat penampilan tim sebelum turnamen Piala AFF 2012 dimulai dan mengingat persiapan timnas yang jauh dari kata ideal karena kisruh yang tak kunjung usai, saya sendiri memprediksi Indonesia hanya akan menang tipis atas lawan pertama kami di Grup A tersebut. Sayangnya, prediksi saya pun ternyata masih terlampau optimis.

Indonesia hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Laos. Bahkan, pasukan Garuda dua kali tertinggal terlebih dahulu, dan baru bisa menyamakan kedudukan tiga menit sebelum waktu normal berakhir lewat gol pemain pengganti Vendy Mofu. Bukan hasil yang mengesankan, dan mencerminkan penampilan timnas yang memang kurang mengesankan.

Indonesia sebenarnya bermain cukup baik di awal babak pertama. Langsung menekan, Bambang Pamungkas dkk. beberapa kali membuat peluang ke gawang Sangphachan Bouthisanh, termasuk dua kali dari kaki dan kepala Irfan Bachdim. Agresifitas menjadi andalan tim yang diasuh oleh pelatih Nil Maizar ini, terutama dengan mengandalkan Okto Maniani dan Andik Vermansyah dari kedua sisi. Sayangnya di babak kedua, permainan Indonesia langsung menurun secara drastis. Laos berbalik lebih dominan, dan berkali-kali merepotkan pertahanan timnas.

Pujian di pertandingan menurut saya patut diberikan kepada Andik, Tonnie Cusell, dan pemain naturalisasi yang baru mendapatkan paspor Indonesia beberapa hari jelang keberangkatan ke Malaysia, Raphael Maitimo. Permainan Andik meningkat cukup tajam dalam hal pemberian umpan-umpan silang ke dalam kotak penalti. Salah satu peluang Indonesia yang didapatkan oleh Bachdim di awal laga berawal dari umpan silang Andik, yang kali ini jauh lebih terukur (jika dibandingkan dengan umpan-umpan Andik di penampilan-penampilan sebelumnya). Andik juga rajin membantu pertahanan, dan tak segan-segan berlari mengejar lawan yang sedang membawa bola di daerah pertahanan Indonesia.

Permainan Cusell dari segi ofensif juga meningkat, terlihat dari umpan-umpannya yang jauh lebih baik dari laga ujicoba melawan Timor Leste. Tetapi yang mencolok adalah eksekusi tendangan penjurunya yang akurat. Gol pertama Indonesia dari sundulan Maitimo berawal dari tendangan penjuru Cusell. Sayang kemampuan defensifnya masih kurang, dan tidak mampu membantu M. Taufiq yang juga tampil kurang baik. Selain itu, hal lain yang patut disayangkan adalah penampilannya di babak kedua yang menurun.

Untuk seorang debutan, penampilan Maitimo terbilang sangat baik. Selain mencetak gol pertama Indonesia di turnamen ini, sebagai full-back, Maitimo rajin membantu serangan lewat sayap, namun tetap disiplin menjalankan tugasnya sebagai seorang defender. Imbasnya, Laos hampir di sepanjang laga “tidak berani” menyerang dari sisi Maitimo, dan memilih membombardir sayap kiri pertahanan Indonesia yang dijaga oleh Novan Setya.

Irfan Bachdim, yang penampilannya kala melawan Timor Leste saya puji di Twitter, tampil tidak terlalu mencolok. Ia sebenarnya memiliki beberapa peluang untuk mencetak gol, terutama dua di awal babak pertama, namun sayang penyelesaian akhirnya kurang baik. Kali ini, penampilannya tertutup oleh aksi-aksi Andik yang eksplosif di sisi sayap.

Kritik terbesar jelas patut diarahkan ke sektor pertahanan Indonesia. Pertama, duet Wahyu Wijiastanto dan Hamdi Ramdhan bermain buruk dan seakan “membiarkan” pemain-pemain Laos melepaskan umpan seenaknya di wilayah mereka. Wahyu Wijiastanto yang memiliki tubuh tinggi besar juga sering terlihat seakan bermain asal tabrak dan bukannya mencoba membaca permainan umpan lawan. Kartu kuning yang diarahkan kepadanya adalah hal yang wajar, walau jelas harus disayangkan.

Taufiq, yang sepertinya memiliki tugas sebagai gelandang bertahan, juga bermain tidak cukup baik dan seperti tidak mampu menghentikan lini tengah Laos, yang kerap memberikan umpan-umpan terobosan berbahaya. Gol pertama Laos juga sebenarnya berawal dari umpan terobosan lini tengah mereka, sesuatu yang seharusnya diantisipasi oleh Taufiq (dan rekannya, Cusell).

Tetapi yang harus menjadi sorotan adalah posisi kiper. Baik Endra Prasetya maupun Wahyu Tri seakan lupa kalau kiper sebenarnya boleh memegang bola menggunakan tangan, dan malah senang berusaha menghalau bola terobosan lawan menggunakan sliding tackle. Kartu merah bagi Endra Prasetya adalah hal yang wajar, dan memang seharusnya diberikan. Sebuah pukulan berat bagi Indonesia, yang hanya membawa dua kiper ke Piala AFF.

Hasil seri ini membuat langkah Indonesia cukup sulit. Singapura, yang di pertandingan malam tadi menghajar tuan rumah Malaysia dengan skor 0-3, adalah lawan berikutnya dan kemenangan jelas sulit didapan, jika permainan timnas masih seperti saat ini. Saya sendiri berharap setidaknya timnas bisa kembali meraih hasil imbang dan Malaysia kembali tampil jeblok sehingga kita bisa menang di pertandingan terakhir. Jika hal itu terjadi, saya akan senang karena besar kemungkinan Indonesia lolos ke semi-final, tetapi jikapun gagal, saya tidak akan terlalu terkejut.

Biarpun pesimis, mari tetap berharap agar Indonesia setidaknya bisa lolos dari fase grup.

Ketika saya mulai menyukai Chelsea Football Club di sekitar tahun 1998-1999, saat itu usia saya masih delapan tahun, Roberto Di Matteo sudah menjadi salah satu pahlawan bagi klub asal London Barat ini. Satu golnya ke gawang Middlesbrough di final Piala FA 1997 berandil besar membawa The Blues mengakhiri puasa gelar yang sudah berlangsung selama 26 tahun.

Kepahlawanan Di Matteo tak berhenti sampai di situ. Pada final Piala FA tahun 2000 (final Piala FA terakhir di Stadion Wembley yang lama), gol tunggal Chelsea dicetak oleh Robbie ketika laga tinggal tersisa 17 menit lagi. Di Matteo, bagi fans Chelsea kala itu, sudah menjadi salah satu pahlawan besar bagi klub selain Gianfranco Zola dan kapten Dennis Wise.

Total, enam tahun Di Matteo berkandang di Stamford Bridge, waktu yang sudah cukup panjang untuk menyebutnya seorang “Chelsea boy”.

“Ia adalah seorang ‘Chelsea boy’ juga (seperti saya), dan ia adalah pahlawan Chelsea,” kata Gianfranco Zola.

Pete Winkelman, chairman MK Dons, tempat Di Matteo memulai karir manajerialnya, juga mengatakan hal yang serupa.

“Saya selalu ingat Robbie selalu melihat hasil Chelsea setelah pertandingan kami selesai,” ujarnya. “Ia adalah seorang ‘Chelsea boy’ sejati. Sangat jelas bahwa Chelsea mempengaruhinya sebagai seorang pemain dan karirnya.”

Karena itu, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mendengar bahwa Di Matteo menjadi manajer Chelsea pasca pemecatan Andre Villas-Boas. Memiliki seorang manajer yang dulunya menghabiskan sebagian karir bermainnya di klub yang sama jelas menghadirkan perasaan yang berbeda dibandingkan ketika memiliki seorang manajer top tapi tak memiliki sejarah apapun sebelumnya dengan klub.

Lebih membahagiakan lagi ketika ternyata Robbie mampu melakukan tugasnya dengan baik: mengangkat klub yang sedang terpuruk di akhir era AVB dan membawanya ke puncak tertinggi di sepakbola Eropa, Liga Champions. Di Matteo berhasil memberikan trofi yang begitu diimpikan oleh Roman Abramovich selama bertahun-tahun memiliki Chelsea dan gagal direngkuh oleh manajer-manajer sebelumnya. Apalagi, ia melengkapinya dengan trofi Piala FA, trofi yang juga ia dapatkan dua kali ketika masih menjadi pemain. Mengantarkan The Blues meraih gelar ganda dan mengukir sejarah baru jelas sebuah prestasi besar bagi Di Matteo. Prestasi besar yang seharusnya diapresiasi.

Chelsea memang kemudian mengapresiasinya dengan sebuah kontrak permanen sebagai manajer. Satu hal yang memang amat diinginkan (dan sempat terus disuarakan) oleh para fans. Sayangnya, apresiasi itu hanya sementara saja. Hanya lima bulan setelah Di Matteo mendapatkan kontrak permanen, Chelsea memecatnya setelah serangkaian hasil buruk di liga domestik dan di Liga Champions. Pengumuman itu terjadi tak sampai 24 jam pasca kekalahan 3-0 The Blues di Juventus Arena.

Memang, penampilan Chelsea dalam delapan pertandingan terakhir di semua kompetisi cukup buruk. Tetapi apakah hal itu bisa dijadikan alasan untuk langsung memecat seorang manajer yang telah membawa klub menuju kesuksesan tertinggi dalam sejarah, apalagi memiliki sejarah yang panjang bersama klub? Saya rasa tidak.

Delapan pertandingan dengan empat kekalahan, dua kali seri, dan dua kali menang menurut saya tidak bisa menjadi alasan yang tepat untuk menilai Di Matteo tidak bisa meneruskan pekerjaannya. Bukankah sebelum delapan pertandingan tersebut The Blues bisa bermain luar biasa dan membuat istilah sexy football, istilah yang sering fans Chelsea dengar di era manajerial Ruud Gullit dulu, kembali muncul?

Betapa pendeknya sumbu kesabaran Roman Abramovich dan antek-anteknya di dewan direksi Chelsea. Tetapi yang lebih disayangkan adalah kenyataan bahwa orang-orang ini terlihat benar-benar tidak memiliki respek sama sekali terhadap sosok yang telah begitu berjasa kepada klub. Dan tidak adanya penghargaan terhadap sosok yang berjasa di klub bukan sekali ini saja terjadi. Ingat soal Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti?

Chelsea Merindukan Old Guards Mereka

Sejak musim 2011/12 lalu, Chelsea sudah mulai melakukan perombakan terhadap skuat mereka. Alasannya adalah peremajaan tim, terutama karena selama ini, The Blues masih terus mengandalkan dengan pemain-pemain bintang dari era Jose Mourinho seperti John Terry, Frank Lampard, dan Didier Drogba. Perombakan ini makin terlihat nyata di musim panas 2012, dengan masuknya pemain-pemain ofensif dan berusia muda. Sebuah pertanda bahwa Abramovich ingin mengubah wajah Chelsea menjadi sebuah tim yang ofensif, satu obsesinya sejak dulu selain memenangkan Liga Champions.

Transformasi wajah Chelsea ini berlangsung cukup lancar. Meski gagal merebut trofi Community Shield dan Piala Super Eropa, tetapi setelah itu penampilan Chelsea di liga terlihat berubah. Permainan ofensif dengan mengandalkan pemain-pemain kreatif seperti Eden Hazard, Juan Mata, dan Oscar menjadi andalan baru mereka, meninggalkan pakem permainan yang lebih defensif yang selama ini dikenal orang.

Tetapi semenjak kekalahan di Ukraina atas Shakhtar Donetsk di ajang Liga Champions, kondisinya berubah. Lini depan Chelsea memang masih bagus, tetapi pertahanan mereka kini begitu mudah dijebol lawan. Mengapa hal ini terjadi?

Ada banyak kemungkinan yang bisa dijadikan alasan, tetapi saya rasa absennya John Terry dan Frank Lampard, dua dari beberapa old guards mereka yang tersisa saat ini, punya andil besar. Faktanya, Lampard terakhir bermain di Donbass Arena, kandang Shakhtar, sebelum absen panjang karena cedera. John Terry pun absen sejak laga melawan Shakhtar, sebelum tampil lagi kala mereka membalas dendam atas tim Ukraina tersebut di Stamford Bridge dan menikmati comeback singkat kala melawan Liverpool, di mana ia mencetak gol lewat sundulan kepala sebelum ditandu keluar lapangan karena cedera. Namun selain dua laga itu, Chelsea harus bermain tanpa sang kapten dan wakilnya.

Bermain tanpa pemimpin di lapangan, ternyata membuat permainan Chelsea di lapangan menurun. Berkali-kali terlihat bagaimana tidak sigapnya pertahanan mereka, dan kurang jelasnya cara menyerang mereka. Laga di Turin melawan Juventus kemarin memperlihatkan hal itu. Di laga itu, skuat Chelsea seperti kebingungan kala menyerang, dan harus mengandalkan aksi-aksi Petr Cech dan sapuan-di-garis-gawang-ala-Ashley-Cole untuk menghindarkan diri dari kebobolan yang lebih banyak lagi.

Problem ini diperparah dengan masalah kelelahan yang melanda para pemain. Kombinasi dua masalah itu adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh Chelsea dan Roberto Di Matteo dalam beberapa laga terakhir, dan itu jelas tidak mudah. Apalagi, Chelsea sendiri masih dalam masa transisi, dan masa transisi ini harus dilewati tanpa dua old guards terpenting mereka.

Roman Abramovich seharusnya mencoba menjadi manajer klubnya sendiri.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,565 other followers

%d bloggers like this: